Inovasi IoT Dosen Poliwangi Sulap Limbah Kotoran Ayam Jadi Pupuk organik, Dukung Kemandirian dan Ketahanan Pangan Desa Tambon

Home / Inovasi IoT Dosen Poliwangi Sulap Limbah Kotoran Ayam Jadi Pupuk organik, Dukung Kemandirian dan Ketahanan Pangan Desa Tambon

Senin, 13 Juli 2026


TAMBONG - Komitmen perguruan tinggi dalam mengimplementasikan Tri Dharma melalui pengabdian kepada masyarakat kembali diwujudkan oleh tim dosen Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). Pada Kamis (9/7), tim dosen melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tambong, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, mengusung tema "Inovasi Teknologi Pelet Pupuk Berbasis IoT dari Limbah Kotoran Ayam untuk Mendukung Kemandirian dan Ketahanan Pangan Masyarakat Desa Tambong". Kegiatan ini sejalan dengan penguatan peran Poliwangi dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi teknologi tepat guna.

Program tersebut berfokus pada pemanfaatan limbah kotoran ayam yang selama ini belum dikelola secara optimal menjadi pelet pupuk organik bernilai ekonomis.

Melalui penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT), proses produksi pupuk dapat dipantau secara lebih presisi, mulai dari pengendalian suhu, kelembapan, hingga parameter penting lainnya selama proses pengolahan.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pupuk sekaligus mempercepat proses produksi secara efisien.

Tim pengabdian menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang untuk menjawab dua tantangan sekaligus, yakni pengelolaan limbah peternakan yang ramah lingkungan dan kebutuhan petani terhadap pupuk organik berkualitas dengan biaya yang lebih terjangkau.

"Melalui teknologi ini, limbah kotoran ayam tidak lagi dipandang sebagai sumber pencemaran, melainkan menjadi bahan baku yang memiliki nilai tambah ekonomi. Dengan dukungan sistem IoT, masyarakat dapat melakukan proses produksi secara lebih terukur, efisien, dan berkelanjutan," Ujarnya

Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan materi mengenai pengelolaan limbah organik, teknik pembuatan pelet pupuk, pengoperasian sistem monitoring berbasis IoT, hingga praktik langsung proses produksi. Pendekatan partisipatif diterapkan agar masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengoperasikan teknologi secara mandiri.

Kepala Desa Tambong menyampaikan apresiasi atas kontribusi Poliwangi dalam menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. Menurutnya, pemanfaatan limbah peternakan menjadi pupuk organik merupakan solusi yang tidak hanya berdampak terhadap peningkatan produktivitas pertanian, tetapi juga mendukung upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Selain menghasilkan pupuk organik berkualitas, program ini juga membuka peluang usaha baru bagi kelompok masyarakat dan peternak. Produk pelet pupuk yang dihasilkan berpotensi menjadi komoditas unggulan desa sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang harganya terus berfluktuasi.

Penggunaan teknologi IoT dalam proses produksi juga menjadi langkah penting dalam memperkenalkan konsep pertanian cerdas (smart agriculture) di tingkat desa. Inovasi tersebut memungkinkan proses pemantauan dilakukan secara real-time sehingga kualitas produksi lebih konsisten dan efisien.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Poliwangi berharap terbangun ekosistem pertanian yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, serta masyarakat diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi tepat guna guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tambong.



Bagikan Artikel :